Me inspirasion

Me inspirasion

Minggu, 02 Mei 2010

ayam bakar

Bahan:

* 1 ekor ayam
* Mentega untuk memoles
* Kecap manis secukupnya
* 1 potong lengkuas, dimemarkan
* 1 batang serai, dimemarkan
* 3 lembar daun salam
* 5 buah cabai merah, dihaluskan

Bumbu:

* 2 siung bawang putih
* 4 butir bawang merah
* 5 butir kemiri
* 1 potong (1 cm) kunyit
* garam secukupnya

Cara Membuat:

* Ayam dibersihkan dan potong menjadi 4 bagian.
* Semua bumbu dijadikan satu lalu dihaluskan.
* Dengan air secukupnya, rebus ayam dengan bumbu yang sudah dihaluskan, lengkuas, daun salam dan serai sampai matang dan bumbu merata dan meresap.
* Lalu bakar ayam dengan bara api sedang sambil dilumuri cabai merah yang sudah dihaluskan, lalu olesi dengan mentega dan kecap manis. Bakar ayam sampai warnanya kecoklatan.

resep nasi goreng jawa

Saya termasuk salah satu penggemar Nasi Goreng Jawa. Biasanya Nasi Goreng Jawa ini saya sajikan sebagai sarapan pagi buat keluarga tercinta.
Resep Bahan Nasi Goreng Jawa :

* 500 gr nasi
* 200 gr daging sapi rebus, potong panjang tipis
* 100 gr udang basah, kupas kulitnya
* 2 sdm kecap manis
* 2 sendok makan minyak goreng untuk menumis

Resep Bumbu Nasi Goreng Jawa, haluskan :

* 4 buah cabai merah, buang biji
* 1 sdt terasi
* 6 buah bawang merah
* 3 siung bawang putih
* 1 sdt ketumbar
* ½ sdt gula pasir
* 1 sdt garam

Pelengkap Nasi Goreng Jawa :

* 2 butir telur ayam, buat dadar
* 2 buah mentimun, kupas, potong-potong
* Kerupuk udang secukupnya
* Bawang goreng secukupnya

Cara Membuat Nasi Goreng Jawa :

1. Tumis bumbu halus hingga harum. Beri 3 sendok makan air dan kecap manis, aduk rata.
2. Masukkan daging dan udang, aduk sebentar. Masukkan nasi, aduk terus hingga rata betul di atas api kecil, angkat. Sajikan dengan taburan bawang goreng, telur dadar, irisan mentimun, dan kerupuk udang.

Kamis, 22 April 2010

Atasi Macet dengan Rumah Susun

Beberapa tahun terakhir, Semarang didera kemacetan lalu lintas yang menjengkelkan. Jalan-jalan kota yang dulu relatif lancar kini padat kendaraan. Terutama pagi dan sore, arus lalu lintas di sejumlah ruas jalan sering macet. Pertumbuhan kendaraan bermotor sangat pesat dan tecermin di berbagai ruas jalan raya.

Seolah tanpa solusi, kemacetan makin tak terkendali. Jalan-jalan yang sebelumnya digunakan sebagai alternatif karena bebas hambatan belakangan ikut padat. Kondisi ini tentu menjadi momok sebagian besar warga kota. Pengguna jalan setiap hari selalu mengeluhkan persoalan sama saat berada di jalan. Yang lebih memprihatinkan, pihak-pihak yang mempunyai kewajiban mengurai masalah tersebut seolah kedodoran dalam mencari solusi.

Mengurai kondisi kemacetan jalan memang tidak mudah. Meskipun tiap pagi polisi harus melakukan buka tutup ruas jalan untuk mengurai kemacetan, tetap saja kemacetan terjadi dan masih cukup signifikan saja. Dengan kondisi yang sudah seperti ini, sudah seharusnya pemerintah turun tangan mencari solusi.

Berjubelnya kendaraan di pintu-pintu masuk kota, seperti dari arah Ungaran, dari arah Demak, Mranggen, maupun Kendal dan di Genuk, setiap harinya menimbulkan pemandangan yang menyebalkan. Selain sesaknya jalan akibat membeludaknya kendaraan, polusi yang ditimbulkan memperparah Semarang.

Pemberlakuan transportasi massal bus rapid transport (BRT) masih sangat diragukan efektifitasnya untuk mengatasi lalu lintas di Kota Semarang. Siapa pun tidak yakin bahwa pengguna kendaraan pribadi akan beralih ke BRT ketika moda transportasi ini beroperasi. Padahal, jika pengguna kendaraan pribadi tidak banyak beralih menggunakan BRT, kemacetan di sepanjang jalan akan semakin buruk.

Sebenarnya tinggal menunggu waktu saja Semarang akan di-Jakarta-kan. Maksudnya, nasib lalu lintas di Semarang akan mirip, bahkan melampaui, kemacetan di Jakarta. Dengan kondisi seperti itu, tingkat polusi udara dipastikan juga semakin meningkat karena meningkatnya pembakaran bahan bakar. Sejatinya, itu kurang menguntungkan bagi kesehatan kota secara makro. Kerawanan lingkungan hidup juga meningkat. Alternatif

Ada alternatif, misalnya pembatasan umur kendaraan dan pembatasan kendaraan masuk kota. Meskipun demikian, hal itu dipastikan menimbulkan kontroversi luar biasa sebab yang berkepentingan dalam pusaran itu terlalu banyak, baik individu, swasta, maupun pemerintahan. Atau perlu diupayakan budaya tanding yang melihat aspek baik dari sepeda dan jalan kaki. Semuanya bergantung pada kemauan pemerintah, dan warga, agar bijak dalam menciptakan kota teratur tanpa kemacetan.

Pernahkah kita menyadari bahwa kemacetan lalu lintas yang terjadi di kota-kota besar Indonesia telah menyebabkan 20 persen dari bahan bakar minyak (BBM) yang digunakan oleh kendaraan roda empat terbuang percuma? BBM tersebut terbuang percuma saat kendaraan diam di tempat akibat jalanan macet. Pemborosan pemakaian BBM di tengah kemacetan ini bukanlah hal baru. Menurut catatan Strategic Urban Road Infrastructure, sejak 1997, kemacetan sudah sangat serius dan harus segera mendapatkan penanganan. Saat itu, jumlah pemborosan yang dihitung akibat kemacetan lalu lintas telah mencapai Rp 10 triliun per tahun.

Laporan itu juga menjelaskan bahwa kecepatan rata-rata mobil di kota-kota besar hanya 15 sampai 21 km per jam. Hampir sama dengan kecepatan rata-rata di kota Manila (16 km per jam), Meksiko City (31,5 km per jam) dan Los Angeles (34,5 km per jam ). Kemacetan sebetulnya telah menyebabkan kerugian sosial bagi masyarakat berupa pemborosan waktu dan biaya opersional kendaraan. Produktivitas ekonomi dan kualitas hidup warga kota juga turun akibat struktur jalanan yang semakin semrawut dan tingginya angka polutan udara. Rumah susun

Untuk mengurai kemacetan, perlu kebijakan pembangunan infrastruktur transportasi massal yang harus didukung bahkan disinergikan dengan kebijakan perumahan yang mampu mendorong pembangunan perumahan vertikal (rumah susun) di pusat kota. Kemacetan yang tidak terkendali ini akibat perencanaan kota yang tidak diimplementasikan dengan baik sehingga investasi tambahan infrastruktur transportasi pun adalah sebuah keharusan.

Tanpa perumahan murah berbentuk susun atau apartemen murah di tengah kota, warga selamanya jadi pelaju yang tinggal di tepian kota dan bekerja di dalam kota. Tiap hari pula, jalan-jalan menuju dan dari pusat kota dipadati kendaraan sehingga terjadi kemacetan berjam-jam. Rumah susun dibuat sebagai solusi mengatasi kepadatan suatu kawasan di samping menyediakan tempat tinggal layak dan murah bagi warga miskin dan keberadaannya dekat dengan tempat kerja.

Di pusat kota, kita selalu mengeluh kekurangan lahan untuk membangun rusun, padahal banyak lahan telantar. Di Inggris atau Belanda, bila ada lahan telantar lebih dari lima tahun, pemerintah mengambil alih. Selain itu pentingnya lembaga bank tanah yang menyediakan lahan untuk pembangunan rusun.

Kehadiran rusun di Semarang sepertinya belum banyak dilirik para pengembang. Padahal, rusun dapat dijadikan pemecah rumitnya transportasi kota di tengah makin terbatasnya lahan dan ruang untuk membangun rumah di tengah kota. Rusun di tengah kota tentu dapat menjadi alternatif hunian dan prioritas program dalam mengurai kemacetan.

Untuk program pembangunan rusun di kota ini, pemerintah bisa menggandeng swasta (investor). Pembangunan rusun idealnya tidak jauh dari kota apalagi di pinggir kota yang sulit terjangkau prasarana dan sarana transportasi umum. Hal ini agar rakyat tetap dapat tinggal dekat dengan tempat bekerja di pusat kota.

Jika mereka dapat bekerja hanya dengan berjalan kaki saja akan menekan pengeluaran biaya transportasi. Pembangunan rusun ini harus ditujukan untuk memberikan tempat hunian yang cukup layak dan kemudahan agar tidak jauh dari lokasi tempat bekerja dan menghindari kemacetan di jalanan.

Sementara itu, dalam pengamatan penulis, rusun yang kini dibangun pun sebenarnya tidak terkoneksikan dengan jaringan BRT. Rusunawa Kaligawe, misalnya, terletak dipinggir kota yang hanya diperuntukkan bagi pekerja di daerah Semarang timur.

Kondisi ini mempertegas belum terlihat sinergi antara infrastruktur transportasi massal dan kebijakan pemerintah membangun rusun. Tanpa kebijakan tegas dari pemerintah kota seperti manajemen tanah, perumahan di pusat kota dengan harga terjangkau hanyalah mimpi. Mimpi itu bahkan bisa hadir saat kemacetan di jalan menjadi-jadi

Jumat, 16 April 2010

-------

Present Tense
Rumusnya:
Positif: S + V1 (s/es)
Negatif: S + DO/DOES + NOT + V1
Tanya: DO/DOES + S + V1

Contoh Kalimat Positif:
I drink coffee
She drinks coffe
We drink coffee


Kalimat Negatif Present Tense
Bentuk Negatif, artinya menyatakan TIDAK. Maka sesuai rumus Present Tense, setelah SUBJECT ditambah DO atau DOES, baru NOT, lalu tambah kata kerja bentuk pertama tanpa S atau ES lagi. S atau ES nya dimana? Sudah di doES tadi.

Untuk I, WE, YOU, THEY tambah DO
Untuk SHE, HE, IT, Mufli, Ellen tambah DOES

I do not drink coffee.
She does not drink coffee.
John Scoping does not learn english.

Present Continuous Tense:
Rumusnya:
Positif: S + Tobe + Ving
Negatif: S + Tobe+ Not+ Ving
Tanya: Tobe + S + Ving
Berikut ini contoh kalimat Present Continuous Tense sesuai dengan rumus diatas:

- I am writing now (Saya sedang menulis sekarang)
- You are reading my article at present (Apa artinya?)
- She is waiting for you.

Kalimat Negatif Untuk Present Continuous Tense
- I am NOT writing now (Saya sedang tidak menulis sekarang)
- You are NOT reading my article at present (Apa artinya?)
- She is NOT waiting for you.

Present Perfect Tense
Rumusnya Present Perfect Tense begini:
Positif: S + have/has + V3
Negatif: S + have/sas Not + V3
Tanya: Have/has + S + V3

Rumus Present Perfect Continuous Tense
Positif: S + have/has + been + Ving
Negatif: S + have/has + not + been + Ving
Tanya: Have/has + S + been + Ving
Rumus Present Perfect Continuous Tense
Positif: S + have/has + been + Ving
Negatif: S + have/has + not + been + Ving
Tanya: Have/has + S + been + Ving

Present Perfect Continuous Tense
Rumus Present Perfect Continuous Tense
Positif: S + have/has + been + Ving
Negatif: S + have/has + not + been + Ving
Tanya: Have/has + S + been + Ving

Babeh

Babe Atau Robot Gedek Sang Mutilasi Anak Jalanan
LATAR BELAKANG:
Babe mengaku latar belakang pembunuhannya mirip dengan delapan kasus yang terjadi sebelumnya, yakni karena mereka menolak diajak berhubungan seks lewat anus (sodomi).
Apa yang melatari Baekuni alias Babe (49) menjadi penyuka bocah sejenis, penjagal sadis, dan ketagihan melakukan kejahatannya, hanya demi nafsu birahi belaka, ternyata banyak dilatarbelakangi oleh perjalanan hidupnya begitu pilu.
Perlakuan orangtua yang suka berkata kasar, kekerasan penyimpangan seksual di masa kecil, melatari Babe berbuat kejahatan berantai.
Menilik tentang kehidupan masa lalu Babe, tentu ada kisah pilunya yang menjadikan dirinya berprilaku menyimpang. Semasa kecilnya, Babe kerap menerima perlakuan yang tidak baik secara verbal dari kedua orangtuanya.
Babe lahir di Magelang, Jawa Tengah, dan menghabiskan separuh masa kecilnya di tanah kelahirannya itu. Dalam pengakuannya kepada ahli kejiwaan, ahli mengaku suka dimarahi orangtuanya karena tidak berprestasi dalam pendidikan dan kerap tidak naik kelas.
"Babe ini waktu kecil di rumah dibodoh-bodohi terus oleh orang tuanya karena nggak pernah naik kelas, sehingga dia sekolah hanya sampai 3 SD," tutur Guru Besar Psikologi Universitas Indonesia Sarlito Wirawan Sarwono, di Polda
Pro n kontra : Sosok orang seperti Babe selama ini dibutuhkan anak-anak jalanan. Mereka ingin dilindungi agar bisa nyaman mencari nafkah. Babe bukan dipaksa melawan melawan Satpol PP atau tukang palak, tapi sekadar tempat mengadu jika mereka ada masalah. Sesekali Babe memang menyembunyikan mereka dari kejaran aparat. Tidak sedikit orangtua anak-anak, yang menjadi korban Babe, yang kerap menitipkan anak mereka pada pria paruh baya itu.
Tetapi anak jalanan ini tidak disentuh, memang dia sayang anak-anak. Tapi ketika hasratnya datang, dia ambil orang tak dikenal, jadi di luar grupnya (anak-anak asuhan Babe)," tutur Sarlito.[jib]
mengalami kelainan seksual karena homo, kedua mengalami trauma masa kecil, ketiga merupakan pembunuh berantai yang keji dan sadis yang menyodomi dan membunuh serta memutilasi korbannya.
Tujuan membunuh/memutilasi: gara-gara korban menolak disodomi
Tujuan mensodomi:Karena kelainan Jiwa atw yang disebut phedopilia(Kesenangan terhadap sesama jenis kelamin)
Antusias Pemerintah dalam mengatasi kasus babe/robot gedek:
Pemerintah memang punya upaya dalam menangani anak jalanan. Departemen Sosial misalnya, membangun rumah singgah, menyediakan fasilitas pelatihan bagi anak jalanan, serta melakukan pembinaan untuk meningkatkan peran keluarga dalam penanganan masalah ini. Tujuannya, "Agar orang tua berperan baik, sehingga anak-anak tidak lari ke jalanan," kata Mensos Salim Segaf Al Jufri, tentang penanganan anak-anak jalanan.

Namun, dari pendekatan pemerintah dalam menangani anak jalanan, tampaknya ada perbedaan mendasar. Pemerintah menganggap anak-anak jalanan muncul akibat ketidakpedulian orang tua mereka. Karena itu, pendekatan yang digunakan adalah dengan melakukan pembinaan terhadap orang tua dan anak-anak.

Di sisi lain, anak-anak mencari nafkah di jalanan bukan karena ketidakpedulian orang tua mereka. Anak-anak jalanan ikut mencari nafkah karena orang tua mereka tidak punya pekerjaan, atau tidak punya penghasilan memadai untuk menghidupi keluarga. Tidak sedikit dari orang tua anak jalanan ini yang kehilangan penghasilan dari berdagang kaki lima, karena diusir atau digusur. Ketika tidak ada lagi sumber penghasilan, anak-anak pun dilibatkan mencari nafkah.

Soal anak-anak yang harus bekerja, juga tidak hanya di Jakarta, yang sebagian besar mencari nafkah di jalanan. Di pantai Timur Sumatra Utara, ratusan anak-anak bekerja di jermal, tempat menangkap ikan atau hasil laut lain di tengah lautan. Anak-anak tidak hanya bekerja dengan menantang maut, tapi juga harus menghadapi tindakan kekerasan saat bekerja di sana. Mereka pun terpaksa bekerja di jermal karena kebutuhan ekonomi dan juga akibat kemiskinan.

Belum lagi anak-anak yang bekerja di tempat lain, yang jumlahnya juga tidak sedikit. Sebagian besar anak itu terpaksa mencari nafkah karena orang tua mereka miskin atau tidak punya penghasilan.

Betapapun, mereka adalah bagian dari masa depan negeri ini. Karena itu, dalam menyikapi masalah yang mereka hadapi, perlu pendekatan yang komprehensif. Sudah seyogyanya pemerintah mengubah pendekatan dalam menangani masalah anak-anak yang bekerja pada usia dini. Tentu solusinya bukan dengan menyediakan rumah singgah atau menampung mereka agar tidak bekerja saat masih berstatus anak-anak.

Monster air Diancol?

Monster Ancol Ternyata Kutu Air

JAKARTA, SABTU - "Monster" kecil pemakan daging busuk dan bangkai menghuni sejumlah titik di pinggiran pantai Ancol, Jakarta Utara. Binatang mirip kecoa kecil berukuran panjang sekitar 0,75 - 1,5 sentimeter dan dikenal para nelayan dengan sebutan kutu air ini, terdapat di tiga titik yakni Ancol Barat, Timur, dan danau di kawasan Putri Duyung Ancol.

Dalam keterangan pers di Taman Impian Jaya Ancol Sabtu (15/11), Direktur Utama PT Pembangunan Jaya Ancol Budikarya membenarkan adanya monster kecil bernama kutu air di pesisiran Pantai Ancol.

Keterangan resmi dari pihak managemen salah satu Badan Usahan Milik Daerah (BUMD) DKI yang telah go publik ini menanggapi merebaknya video monster air melalui internet.

Pekan lalu, video berjudul Monster Air Ancol bertuliskan Bocah Petualang Production beredar di internet. Video yang muncul di webYouTube dengan title Waspada Ancol! Ada Monster Air ini hasil rekaman Keyno Rizka dan sepupu-sepupunya yang secara kebetulan menemukan hewan itu saat bermain di Ancol pada Mei lalu. Dalam video itu terlihat seekor ikan dilemparkan ke dalam air. Tidak lama kemudian, ikan tersebut langsung jadi rayahan ribuan binatang berwarna putih dan berbentuk oval itu.

Munculnya tayangan video yang sempat membuat jajaran direksi kaget ini langsung direspons manajemen PT Pembangunan Ancol. Setelah melakukan survei di lapangan, tim kami menemukan daerah terbanyak kutu air adalah pesisir danau Putri Duyung. "Dua tempat lainnya, Ancol barat dan timur hanya ditemukan sedikit kutu air saat tim memasukkan ikan busuk dalam air," jelas Budikarya.

LIPI

Budikarya mengatakan, sampel yang diambil tim PT Pembangunan Jaya Ancol selanjutnya diteliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Berdasarkan hasil penelitian instansi ini ditemukan monster kecil ini merupakan parasit ikan yang tidak berbahaya untuk manusia.

"Ini adalah kutu air, jenis hewan herbivora pemakan sampah dan sesuatu yang membusuk. Jadi tidak mengganggu manusia," jelas Budikarya.

Dari hasil analisis LIPI ditemukan bahwa hewan itu merupakan kelompok isopoda jenis cirolana yang sering dijumpai di pantai dan tempat-tempat berbatu. Binatang ini tersebar di hampir semua pesisir pantai. Bahkan, ubur-ubur lebih berbahaya dari kutu air.

"Kami baru mengetahui adanya rekaman video ini Kamis pukul 12.00. Hari itu juga tim langsung diterjunkan ke lapangan untuk melakukan penelitian," kata Budikarya.

Setelah bekerja sejak Kamis siang hingga Jumat dini hari, jelas Budikarya, tim peneliti ini akhirnya menemukan keberadaan monster kecil ini. Sampel hewan kecil itu dikirim ke Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) untuk diteliti.

Menurut Budikarya, pihaknya masih akan terus meneliti keberadaan binatang kecil ini pasca penemuan kutu air.

"Jika kehadiran binatang ini tidak memberikan keseimbangan pada ekosistem di tempat itu, kami akan mencari predatornya untuk memusnahkan kutu air ini secara alami," tambah Budikarya.

Sebaliknya, jika kehadiran binatang ini justru memperbaiki ekosistem tempat itu, kata Budikarya, pihaknya tidak akan memutuskan mata rantai ekosistem dalam air tersebut.



jakarta - Direktur Pengembangan dan Evaluasi Kinerja Daerah Kemendagri Kartiko Purnomo menilai tragedi Tanjung Priok berdarah karena kesalahan komunikasi Pemprov DKI Jakarta dengan masyarakat. Kartiko pun mempertanyakan janji dalam kampanye Gubernur DKI Fauzi Bowo yang menjanjikan keamanan bagi warga DKI Jakarta jika terpilih.

"Ini masalah komunikasi sebenarnya, lemahnya intensitas komunikasi Pemprov DKI dengan masyarakat. Akan kita jadikan bahan evaluasi," kata Kartiko dalam diskusi bertajuk 'Mengukur Kinerja Pemerintah Daerah' di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (16/4/2010).

Kartiko menagih janji kampanye Foke, panggilan akrab Fauzi Bowo. Kartiko meminta pejabat di Pemprov DKI juga mengambil pelajaran supaya tragedi Tanjung Priok tidak terulang kembali.

"Saya minta pejabat yang memimpin, yang punya nurani tidak hanya mementingkan kekuasaan. Jangan cuma lip service pada saat kampanye saja," papar Kartiko.

Kartiko meminta Pemprov DKI Jakarta mulai mendekati rakyat yang masih marah pasca kerusuhan. Setiap rencana daerah, Kartiko meminta Pemprov DKI mempertimbangkan betul-betul untung ruginya.

"Kontrol masyarakat harus ditingkatkan. Kita jangan terlena tapi harus kita cermati perencanaan, pelaksanaannya dan hasil-hasilnya," sarannya.